Showing posts with label Religi. Show all posts
Showing posts with label Religi. Show all posts

26 July 2009

Saatnya Introspeksi Diri

Alhamdulillah..itulah kata kata yang sepantasnya diucapkan oleh saya, sampai tulisan ini dibuat. Waahh…tak terasa rupanya, saya hidup di dunia ini sudah lama juga yahh.. he he. Hampir seperempat abad saya sudah ‘numpang’ hidup di dunia yang fana ini. Kalau sebagian orang beranggapan bahwa hari ulang tahun merupakan hari yang berbahagia, menurut saya anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Ketika dahulu misalnya, saat usia belum se-dewasa’ ini, saya hanya menganggap moment ulang tahun merupakan moment ritual, hura-hura, dan inti nya mah(bahasa sunda.red) senang – senang. Tetapi seiring berjalannya waktu, semakin ke sini saya semakin berfikir bahwa moment ulang tahun seharusnya digunakan untuk mengoreksi apa kesalahan kita yang telah lalu(Introspeksi diri). Dengan adanya Introspeksi diri, setidaknya kita dapat mengenal/mengetahui kesalahan kita di masa lalu.

Begitu banyak kesalahan di masa lalu. Begitu banyak hal – hal yang tidak perlu dilakukan, masih dilakukan juga. Begitu banyak waktu terbuang percuma, hanya untuk memuaskan nafsu belaka. Celaka juga euy, kalau begini terus mah. He he… Untuk itu saya sangat bersyukur sampai saat ini masih diberi kesehatan baik jasmani maupun rohani. Terima kasih buat teman – teman yang selalu memberikan support kepada saya, baik langsung maupun tidak langsung. Terima kasih buat teman – teman yang selalu hadir di blog ini. Saya percaya, bagi orang yang selalu berusaha di jalan ALLAH SWT, pasti diberikan kemudahan dalam segala kegiatannya. Aamiin….
read more...

09 July 2009

Keutamaan Shalat Sunnah

Shalat sunah adalah shalat tambahan, yakni amalan shalat selain shalat wajib lima waktu. Shalat sunah merupakan shalat yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Begitu banyak manfaat dan pahala yang dijanjikan Allah pada kita apabila kita melaksanakan shalat sunah. Tetapi banyak diantara kita yang masih lalai dalam mengerjakannya. Beragam alasan, kenapa masih banyak orang yang meninggalkan amalan salat sunah, baik mu’akkad maupun ghair mu’akkad. Diantara penyebabnya adalah adanya kesibukan pekerjaan sehingga menjadi alasan dan peluang bagi setan untuk menggoda para hamba Alah dari mengerjakan shalat sunah. Atau terinfeksi dengan gaya hidup sekarang yang seakan akan telah ‘meracuni’ pikiran kita.

Shalat Sunah mempunyai keutamaan dan keagungan yang sangat banyak antara lain:
1) Shalat sunah kelak pada hari kiamat akan menjadi amalan tambahan atau cadangan sekiranya shalat wajib lima waktu tidak sempurna pelaksanaannya. Rasulullah SAW bersabda:

“ Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri seorang hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah shalatnya. Bila sempurna maka ia telah lulus dan beruntung, dan bila rusak atau kurang sempurna, maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada shalat wajibnya maka Allah berfirman: “Perhatikanlah kalau-kalau hambaku ada shalat sunahnya sekedar apa yang menjadi kekurangan pada shalat wajibnya. Jika selesai urusan shalat, barulah amalan lainnya. (HR. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA).”

2) Membiasakan shalat sunah bisa menjadi penyebab masuk surga bersama Rasulullah SAW.

3) Shalat sunah dapat meninggikan derajat dan menghapus kesalahan.

4) Shalat sunah yang dikerjakan di rumah akan mendatangkan berkah dan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda :

“Jika salah seorang dari kalian menunaikan shalat di mesjid, hendaklah ia menjadikan rumahnya sebagai bagian dari shalatnya (mengerjakan shalat sunah di rumah). Karena sesungguhnya Allah akan menurunkan kebaikan di rumahnya dari shalatnya itu.” (HR. Muslim dari Jabir).

5) Shalat sunah akan mendatangkan cinta Allah kepada hamba-Nya. Bila Allah telah mencintainya, maka Allah akan menjadi “bagian” yang tidak terpisahkan dari hamba-Nya itu.

6) Shalat sunah adalah wujud syukur seorang hamba kepada Allah. Selain keenam hal tersebut, sangat banyak hal lain yang menjadi keutamaan pelaksanaan shalat. Semuanya merujuk pada kebaikan dan keutamaan. ^Ficky

read more...

12 June 2009

6 amalan hati yang menyebabkan shalat khusyu’

Sobat, tahukah mengapa kita sulit sekali shalat khusyu’? Shalat yang kita lakukan, belum membuat kita merasa nyaman. Banyak hal yang menyebabkannya.


Imam Ghazali, dalam bukunya ’bimbingan mukmin’ menjelaskan, ada enam amalan hati yang harus diupayakan bila ingin menikmati shalat khusyu’, yaitu:
1) kehadiran hati,
2) mengerti bacaan shalat,
3) me-Maha Agungkan Allah,
4) merasa takut (khauf),
5) pengharapan (roja), dan
6) malu (haya).

Bila salah satunya tidak ada, maka akan sulit merasakan kekhusyu’an dalam shalat. Demikian Imam Ghazali menuturkan.

Mari kita coba bahas satu persatu...
Kehadiran hati, berarti kita harus sungguh-sungguh, berusaha menghadirkan Allah dalam setiap detik shalat yang dikerjakan. Terkadang kita tidak berusaha untuk menghadirkan Allah dalam setiap shalat. Dengan menghadirkan Allah dan merasakan seolah-olah ia melihat kita, Insya Allah, jalan menuju kekhusyuan makindekat.

Nah.. sekarang coba tanyakan pada diri sendiri, seberapa besar upaya kita untuk menghadirkan Allah dalam shalat? Mungkin sepertinya masih jauh dari harapan.

Poin selanjutnya, mengerti dan memahami bacaan shalat. Terkadang kita tidak mengerti apa yang kita ucapkan. Bahkan ada juga orang yang tidak sadar akan ucapannya. Bila sudah paham arti dari bacaan shalat yang kita lafadzkan, tentunya akan lebih mudah mengamalkan poin lainnya.

Lalu, me-Maha Agungkan Allah, merasa bahwa kita tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Menyadari bahwa banyak orang yang ilmu maupun amal shalihnya melebihi kita. Apalagi kepada Allah, sangat tidak layak bila ada yang pantas untuk disombongkan. Allah Maha Agung, dan kita ini amatlah kecil dan hina dihadapan-Nya.

Poin ke empat, tumbuhkan rasa takut (khauf). Dengan adanya rasa takut, otomatis kita sangat ingin meminimalisir kesalahan sekecil apapun dalam shalat. Boleh jadi inilah sebabnya mengapa orang-orang shalih jika mau shalat, sudah gemetaran. Contoh kasus nyata adalah ketika Sahabat Abu Bakar as-Siddiq bila membaca ayat yang berisi siksa dan ancaman bagi mereka yang lalai kepada-Nya, tubuhnya akan gemetar ketakutan. Ini dikarenakan Abu Bakar merasakan takut seandainya ia tidak diampuni dosa-dosanya.

Namun, tentu rasa takut (khauf) hendaknya dibarengi perasaan berharap terhadap rahmat dan ampunan Allah (roja). Keduanya tak boleh berlebihan. Harus seimbang.

Setelah itu kita harus ada rasa malu (haya). Ketika kita malu pada teman, orang tua, guru, dosen, tentu kita akan merendah dan menunduk. Apalagi rasa malu ini ditujukan kepada Allah. Seharusnya kita merasa lebih patuh dan tunduk kepada Allah.

Dalam prakteknya, syeitan selalu saja tidak akan merasa lelah untuk terus menggoda kita. Caranya ketika kita shalat, syeitan memunculkan pikiran-pikiran yang sebelum shalat tidak ada. Ataupun bisa juga membuat kita merasa ngantuk,dsb.

Semoga dengan terus berlatih dan dengan usaha yang tak kenal menyerah, kita akan dibimbing oleh Allah agar mampu khusyu’ dalam shalat. Amiin..

Sumber : Media Swadaya

read more...

19 May 2009

Indahnya Rihlah..

Sudah lama rasanya saya tidak memposting artikel. Seperti Ada yang kurang gitu.... he he he... Maklum, sok cari kesibukan. Kebetulan, Pada awal bulan Mei kemarin, saya Alhamdulillah diajak oleh teman – teman untuk mengadakan kegiatan Rihlah. Rihlah bisa diartikan sebagai Jalan – jalan/Bepergian. Pertama kali saya diajak tuk ikut Rihlah, saya langsung mengiyakan saja ajakan itu. Jujur saya sangat antusias apabila ada kegiatan Rihlah. Apalagi bersama teman – teman yang begitu baik sudah mau mengajak saya.

Kegiatan Rihlah kali ini diadakan di Taman Safari. Walaupun saya pernah beberapa kali berkunjung ke tempat ini, namun saya seakan tak pernah bosan untuk kembali melihat keanekaragaman satwa yang begitu indahnya. Didukung dengan cuaca yang sangat sejuk, semakin menambah daya tarik tempat ini untuk segera disinggahi oleh pecinta satwa khususnya dari daerah Jawa Barat dan umumnya dari seluruh Indonesia.

Di awal keberangkatan, saya agak sedikit iri ketika hampir semua teman – teman saya membawa Istri maupun putra – putrinya Sekedar informasi saja, teman saya k ebanyakan sudah bekerja dan sudah menikah. Bisa ditebak khan, kira – kira berapa umurnya? He he.. Wahh.... begitu indahnya Rihlah membawa keluarga sendiri. Walaupun mereka membawa keluarga masing – masing ternyata tidak menghalangi kita untuk saling bertegur sapa, saling membantu, bahkan saling menjaga satu sama lain.


Setibanya kami disana, kami langsung disuguhi oleh Udara yang sejuk bersih. Berbeda dengan udara Bandung yang mulai panas. Kita melewati berbagai aneka satwa yang terkesan jinak (kecuali satwa buas seperti singa). Saya pribadi begitu terkesima ketika seekor burung pemangsa dengan gampangnya menghampiri instruktur/pelatihnya hanya dengan sedikit sinyal dari instrukturnya. Sebenarnya yang ditawarkan dari wahana Taman Safari ini sangat variatif. Dimulai ketika kita dapat melihat satwa yang bervariatif, pertunjukkan satwa, pertunjukkan wahana koboi, maupun kereta gantung. Namun apa daya, wahana yang sebegitu banyaknya tidak mampu kami ikuti karena terbatasnya waktu.

Setelah puas kita menikmati hampir semua pertunjukkan di Taman Safari, akhirnya kita bergegas menuju Bandung lagi. Di dalam perjalanan tadi, saya dapat mengambil kesimpulan begitu besarnya kuasa-NYA dan begitu bersyukurnya kita dapat melihat makhluk ciptaan ALLAH yang begitu indahnya...


read more...

18 March 2009

Sudahkah kita Bersyukur??

Bersyukur kepada Allah SWT…. Mungkin kalimat inilah yang sering kita dengar dalam salah satu lagu religi (kalo ga salah nama penyanyinya Opick). Hehe.. Kalo mengucapkan kata “Syukur” memang mudah, tapi melakukan perbuatan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah SWT memang banyak halangannya. Alasannya tentu sangat beragam. Termasuk saya sendiri masih mengalami hal itu.

Saya sangat terenyuh dengan peristiwa yang kadang – kadang tidak disadari oleh kita sendiri. Seperti halnya suatu peristiwa dimana saya kemarin sedang melaksanakan shalat ashar di mesjid Al- Harrir. Ketika itu saya sedang shalat, tiba – tiba saja datang seorang anak kecil ikut bergabung dengan kami (ketika itu jemaah berjumlah 4 orang).

Sepintas tak ada yang aneh dengan anak kecil tersebut. Namun apabila diperhatikan lebih lanjut, anak kecil tersebut ternyata tidak bisa berdiri. Anak itu menyandang cacat sudah lama. Walaupun begitu, dia sangat semangat sekali untuk bisa bergabung melaksanakan shalat ashar.

Dalam hal ini, saya sangat sedih sekaligus bersyukur, begitu melihat anak tersebut. Sedih, dikarenakan saya sangat jarang bersyukur kepada Allah. Dan bersyukur, Allah telah mengetuk hati saya kembali supaya lebih baik lagi dalam beribadah. Sejujurnya saya sangat malu mengenai hal ini. Anak kecil yang tidak sempurna secara fisik saja, begitu bersemangatnya beribadah.

Dari peristiwa ini, saya seperti diingatkan kembali bahwasanya saya khususnya harus bersyukur dalam menerima segala yang diberikan oleh Allah SWT. Sudah sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT. Semoga ini ada hikmahnya... aaamiinn

Gambar : sudhew.wordpress.com
read more...

14 February 2009

Valentine's Day ( Bag. 2 )

Baru pada masa Kaisar Constantin (280-337M) upacara tersebut mendapat tambahan. Kaisar pertama pemeluk agama nasrani ini memberi peluang kepada gereja untuk memeberi pengaruhnya. Upacara tambahannya dimulai dengan pesan-pesan cinta yang disampaikan oleh para gadis yang diletakkan dalam sebuah jambangan kemudian diambil oleh para pemuda. Setelah itu mereka berpasangan dan berdansa dan diakhiri dengan tidur bersama yang lengkap dengan perzinahannya. Pada tahun 494 M, dewan gereja yang dipimpin Paus Galsium I mengubah upacara Lupercalia itu dari tanggal 15 Februari menjadi 14 Februari yang pada tahun 496 M ditetapkanlah sebagai Valentine’s Day sekaligus untuk menghormati Santo Valentino.

Bertitik tolak pada uraian di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa, pertama, Valentine’s Day berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi kuno menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kemusyrikan. Kedua, yang biasa dilaksanakan 15 Februari tersebut pada tahun 495 M oleh Paus Galsium I diganti menjadi 14 Februari. Ketiga, masyarakat dunia menerima, lantas “hari” itu disebarluaskan dengan dalih “ hari kasih sayang” yang kini telah tersebar di berbagai negeri yang mayoritas penduduknya Islam. Hal ini dapat dilakukan hanya dengan kekuatan media yang sangat kuat.

Kini, permasalahannya telah jelas bahwa Valentine hanyalah tradisi Nasrani yang bila kita telusuri ternyata berakar dari kebudayaan Romawi purba. Lantas, benarkah Valentine itu adalah hari penyebaran kasih-sayang dan menyatakan cinta? Memang, sangat memprihatinkan bila kita rasakan! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta kasih. Padahal, dalam Islam, ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas dan kemuliaan.

Kelicikan musuh Islam untuk menipu ummat Islam memang sangat luar biasa, karena mereka menghalalkan segala cara. Valentine’s Day yang berbau syirik tersebut bisa terbungkus dan terpoles rapi hingga diminati dan digandrungi oleh sebagian kecil generasi muda Islam dengan yang tidak memiliki Furqon. Invasi Pemikiran (Ghazwul fikri) yang gencar ini tidak luput mendapat dukungan dari media cetak dan elektronik. Keduanya ikut mempromosikan Valentine’s Day kepada para pembaca dan pemirsanya dengan berbagai macam cara untuk menarik simpati.

Untuk itulah penting bagi kita menghindarkan diri dari dan menjauhkan diri dari taqlid buta, agar tidak terperdaya oleh musuh-musuh Islam dan hanyut dalam peniruan yang membabi buta kepada mereka tentang hal yang membahayakan aqidah dan tidak bermanfaat.

Kini layaklah kiranya, bila masalah ini agaknya menjadi permasalahan penting bagi ummat, khususnya generasi muda Islam. Dalam arti bahwa masalah ini mendesak dicarikan jalan keluar. Betapa tidak, karena taqlid buta yang merasuki jiwa muda muslim dan semangat menegakkan dienullah sudah mulai pudar di kalangan generasi muda kita. Untuk itu, kita tidak boleh terkecoh dengan kemasan Valentine’s Day yang tidak lain merupakan piranti efektif musuh-musuh Islam untuk menjauhkan , menggerogoti aqidah dan mengoyak akhlak serta tali ikatan generasi muda Muslim dengan Rabb-Nya.

Kini jelaslah bahwa Valentine’s Day merupakan baudaya asing (non-Islam). Mengikutinya berarti ikut serta menghidupkan dan melestarikan budaya jahilliyah yang nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. Sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia tergolong kaum it” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Pertanyaannya, akankah generasi muda Muslim kita digerogoti aqidahnya dan dicabik-cabik akhlaknya serta dijauhkan tali ikatannya dengan Rabb-Nya?

read more...

13 February 2009

Valentine's Day

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An Nisaa, 4 : 115)

Ayat di atas menggambarkan betapa besar kasih sayang Allah terhadap kita sebagai manusia ciptaan-Nya dengan memberikan peringatan yang cukup tegas agar kita tidak terjerembab ke dalam lembah kehinaan, neraka jahanam tempatnya. Di balik peringatan itu, sebenarnya Allah SWT telah memberikan jalan kebebasan kepada manusia untuk bebas memilih jalan hidupnya masing-masing.

Paling tidak ada “dua” jalan yang bisa ditempuh manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, yakni jalan lurus (keselamatan) atau jalan yang sesat. Setiap jalan hidup yang ditempuhnya, tentu membawa risiko atau konsekuensi tersendiri baik di dunia maupun di akhirat, dan tidak terkecuali dalam memilih budaya atau tradisi.

Demikian pula, budaya ikut-ikutan yang tidak jelas rujukannya tidak lepas juga membawa konsekuensi tersendiri bagi pelakunya, sebagaimana firman-Nya: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya” (Al Israa, 17 : 36)

Dalam kaitan fenomena perayaan datangnya satu hari yang mereka namakan dengan “Valentine’s Day”, tentu kita sebagai muslim layak pula mengetahui apa dan siapa Valentine’s Day itu dan bagaimana hukumnya bila ummat Islam ikut-ikutan merayakannya? Kisahnya, Valentine’s day yang biasa dirayakan pada bulan Februari jelas-jelas bukan budaya atau tradisi Islam. Ia berasal dari – dan dibudayakan oleh orang-orang nasrani. Ia yang selalu diperingati setiap tanggal 14 Februari adalah suatu perayaan yang dilakukan untuk menghormati Santo Valentino yang dihukum mati pada tahun 270 Masehi. Suatu hari di mana orang yang sedang mabuk asmara secara tradisi saling mengirimkan pesan cinta dan hadiah, demikianlah sekilas sejarah Valentine’s day.

Adapun , Santo Valentino sendiri adalah nama seorang pendeta kristen yang dianggap sebagai pelindung orang yang bercinta. Dia dihukum mati karena melanggar peraturan yang dibuat Emperior Claudius II Ghoticus. Sang Emperior melarang para pemuda berstatus bujangan untuk menikah. Bahkan dia menganggap tentara yang masih lajang jauh lebih berprestasi ketimbang yang sudah beristri.

Hal ini tentu sangat tidak disetujui oleh Santo Valentino, tanpa sepengetahuan penguasa ia menikahkan pemuda-pemudi. Tak lama kemudian akibat perbuatannya itu, pendeta tersebut dipenggal di Roma pada tahun 270 M (sumber lain 268M) dan ia dikuburkan di tepi jalan Flaminta. Anehnya, pihak gereja malah menobatkan ia sebagai pahlawan bercinta.

Hari Valentine yang jatuh pada tanggal 14 Februari selalu dikaitkan dengan hari ‘kasih sayang’. Benarkah ia merupakan hari yang menyebarkan kasih sayang ? Ternyata, bila diteliti lebih lanjut, Valentine’s day adalah sebuah upacara keagamaan Romawi yang menyembah Dewa Lupercus (Dewa kesuburan padang rumput dan hewan ternak). Juga dihubungkan dengan penyembahan Dewa Faunus yang konon dianggap sebagai dewa alam semesta dan pemberi wahyu yang dilaksanakan di bukit Falentine.

Ritual acaranya, dimulai dengan mengorbankan beberapa ekor kambing dan seekor anjing. Lantas dua orang pemuda dibawa ke sebuah altar, sebuah pisau yang berlumuran darah disentuhkan di kening mereka dan mereka harus tertawa. Setelah itu darah di kening dibersihkan dengan kain wool yang dicelupkan ke dalam susu. Kemudian mereka dibagi menjadi dua kelompok dan berlari ke arah yang berlawanan mengelilingi bukit dan tembok kota Falentine. Mereka mencambuki wanita yang dijumpai guna mengembalikan kesuburannya. Namun anehnya, para wanita dengan senang hati menerima cambukan tersebut. Kalo diperhatikan secara seksama, ritual diatas sangat menyeramkan. Hiiiii...!! Udah dulu y.. artikelnya terlalu panjang. Ntar lanjut ke bag 2..hehe
read more...